Indonesian Student Leadership Training (ISLT)
Kepemimpinan adalah produk kebudayaan, SLT bukan seminar motivasi, pelatihan teknis, atau event seremonial. Tetapi program yang fokus pada pembentukan etos, pembentukan orientasi moral, dan pembentukan manusia kooperatif.
Mengapa ISLT Diselenggarakan?
Krisis Sosial-Kultural Generasi Muda
Indonesia tidak kekurangan generasi cerdas, tetapi kekurangan generasi yang mampu hidup dan bekerja bersama. Individualisme, kompetisi ekstrem, lemahnya empati, rendahnya civic engagement, dan kepemimpinan simbolik.
Pendidikan Karakter Masih Normatif
Krisis keteladanan dan kepemimpinan muda, Polarisasi sosial dan melemahnya solidaritas, dan minimnya pengalaman reflektif dalam pendidikan formal.
Pilar-Pilar ISLT
-
Kesadaran Diri dan Empati Sosial:
Membangun Kesadaran Peserta Sebagai Makhluk Sosial Serta Menumbuhkan Empati Sebagai Fondasi Utama Kepemimpinan.
-
Pemikiran Bung Hatta Dan Etos Kooperatif:
Menanamkan Etos Kooperatif Sebagai Cara Hidup Bersama Melalui Pemahaman Pemikiran Bung Hatta Dan Sejarah Bangsa.
-
Problem Solving Sosial:
Mengembangkan Kemampuan Peserta Dalam Mengidentifikasi, Menganalisis, Dan Merumuskan Solusi Atas Persoalan Sosial Secara Kolektif.
-
Inovasi Sosial Dan Kepemimpinan Aksi:
Mendorong Peserta Untuk Berani Bertindak Melalui Inovasi Sosial Yang Realistis Dan Berdampak.
-
Refleksi, Komitmen, Dan Regenerasi Nilai:
Menjamin Keberlanjutan Nilai Islt Melalui Refleksi Dan Komitmen Jangka Panjang Peserta.
Tayangan Resmi & Pilar Pembelajaran ISLT
Pelajari materi kepemimpinan empati, problem solving, dan pidato kehormatan dari para tokoh bangsa.
ISLT 2025 Menuju Masyarakat Kooperatif
Tayangan artistik dan puitis yang mengangkat tema harapan, kebersamaan, dan cita-cita luhur menuju Indonesia kooperatif.
Putar Video Resmi (08 Menit 05 Detik)Aktivitas Utama Selama Program
Pengalaman pelatihan yang intensif, reflektif, dan kolaboratif bagi para pemimpin muda.
1. Experiential Learning
Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi mengalami langsung proses pembelajaran melalui simulasi sosial, diskusi reflektif, observasi lapangan, historical immersion, serta praktik kepemimpinan kolektif.
2. Reflective Learning
Setiap tahapan kegiatan dirancang untuk mendorong peserta merefleksikan pengalaman hidup, posisi sosial, serta tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Refleksi dilakukan melalui forum diskusi, penulisan refleksi personal, forum komitmen kepemimpinan, dan evaluasi pasca-program.
3. Project Based Learning
Peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga didorong merancang mini project sosial berbasis kebutuhan nyata di lingkungan masing-masing. Melalui pendekatan ini, peserta belajar menerjemahkan empati sosial menjadi tindakan kolektif yang berdampak.
4. Historical Immersion
Sebagai proyek kebudayaan, ISLT menggunakan pendekatan penelusuran sejarah masyarakat kooperatif melalui kunjungan dan pembelajaran di ruang-ruang sejarah seperti Rumah Kelahiran Bung Hatta, Jam Gadang, Koto Gadang, dan ruang sejarah perjuangan lainnya di Sumatera Barat.
5. Social Emotional Learning
Program dirancang untuk memperkuat kemampuan empati, komunikasi, kolaborasi, dan pengelolaan relasi sosial peserta. Pendekatan ini penting karena ISLT memandang krisis kepemimpinan generasi muda bukan hanya persoalan kapasitas teknis, tetapi juga melemahnya kompetensi sosial dan emosional.
Siap Menjadi Utusan Terbaik dari Provinsi Anda?
Pendaftaran peserta ISLT terbuka untuk seluruh Ketua dan Pengurus OSIS SMA/SMK/MA sederajat di Indonesia. Tidak dipungut biaya pendaftaran.
Mengisi Formulir Pendaftaran Peserta